MATA barangkali jendela untuk mengetahui hati Anda, tetapi sepatu merupakan gerbang untuk mengetahui jiwa (psyche) Anda.
Itulah salah satu ungkapan yang terdapat dalam buku kecil berjudul Shoes (Workman Publishing, New York) karya Linda O’Keeffe. Dari psikologi, folklore, sampai sejarah sosial bisa diungkap ketika kita membicarakan sepatu.
Yang menyangkut dongeng sudah sangat dikenal orang, misalnya cerita Cinderella. Di situ sepasang sepatu telah mengubah nasib seorang gadis-dari gadis yang dikucilkan menjadi seorang putri. “Setiap wanita memiliki keinginan, baik sadar maupun bawah sadar, untuk memiliki perasaan romantik,” kata desainer sepatu Stuart Weitzman, masih dalam buku tadi-yang seperti “bible” mengenai sepatu, akan menjadi acuan utama tulisan ini.
Kalangan psikologi banyak yang mencoba menguak makna tersembunyi di balik sepatu, sebagaimana mereka menguak makna tersembunyi di balik tas wanita (katanya, wanita yang suka membawa tas besar dengan isi macam-macam, menandakan “perasaan tidak aman” alias insecure dari wanita bersangkutan). Ada yang mengatakan, wanita yang mengumpulkan banyak sepatu adalah “pejalan yang frustrasi”. Yang lain lagi menengarai adanya keinginan untuk mencari “pencerahan”.
Tulis pemerhati fashion Holly Brubach, “Sepasang sepatu baru boleh jadi tidak menyembuhkan patah hati atau mengobati sakit kepala. Namun, akan menghilangkan simptom- simptomnya dan menghalau kemurungannya.”
Betapapun mungkin terasa mengada-ada, tetapi percayalah, kalau Anda berhadapan dengan dua wanita, yang satu suka sepatu bermerek Scholl (dengan alasan enak dipakai sehari-hari meski modelnya sederhana) dan yang satu lagi menyukai sepatu berhak tinggi dari Manolo Blahnik, Anda tengah berhadapan dengan dua pribadi yang berbeda seperti “bumi-langit”.
Pembuat sepatu terkenal André Perugia meneorikan, cara untuk mengungkap kepribadian wanita adalah dengan mempelajari kakinya (kalau di sini subyeknya melulu perempuan, memang disebabkan kebanyakan referensi bicara mengenai sepatu perempuan). Hal itu tentu tidak hanya berlaku di Barat, pada pembuat sepatu untuk kalangan atas. Coba lihat di Jawa, khususnya Jawa Timur, masyarakat berbagai kalangan suka mengamati psyche wanita dari “kencet” pada pergelangan kakinya. Ada berbagai macam asosiasi dihubungkan dengan bagian itu.
MEMASUKI Clarks Museum di Somerset, Inggris, yang tertarik pada sejarah sosial akan segera melihat bagaimana model sepatu dari waktu ke waktu mencerminkan apa yang terjadi pada suatu masa. Museum seperti ini memang biasa menyertai merek-merek terkenal. Untuk menuliskan buku mengenai sepatu, O’Keeffe tadi misalnya, mengungkapkan referensinya antara lain dari Bally Shoe Museum, The Bata Shoe Museum, Charles Jourdan Museum, dan Museo Salvatore Ferragamo.
Sepatu wanita dengan hak tinggi dengan bagian depan yang membuat si pemakai seperti harus dalam posisi berjinjit di era sekitar tahun 1500- an, sampai sepatu dengan platform tebal yang mengingatkan romantisme kebebasan tahun 1960-an/1970-an, terpajang di situ.
Kenikmatan kaum lelaki menyaksikan sensualitas wanita yang memakai sepatu berhak tinggi, konon kembali ke tahun 1533, ketika Catherine de Médicis yang imut membawa sepatu berhak tinggi dari Florence ke Paris, untuk perkawinannya dengan Duke d’Orléans.
Gaya sepatu seperti itu segera merebak di kalangan para wanita kerajaan. Sepatu seperti itu-yang kalau pemakainya tidak hati-hati bisa jatuh tertelungkup -tentulah berikut “keribetannya” hanya bisa dinikmati kalangan atas. Kalangan bawah, kelas pekerja yang harus serba praktis dan bekerja, mana bisa memakai sepatu tadi.
Dalam perkembangannya, banyak yang mengotak-atik mengenai sepatu hak tinggi wanita ini. “…(sepatu) hak tinggi mengandung paradoks,” tulis Rona Berg dalam Vogue seperti dikutip buku tadi. “Dia bisa membuat seorang wanita kelihatan lebih-atau kurang- berdaya”. Di satu pihak, sepatu hak tinggi seperti membatasi gerak wanita. Di pihak lain, ujung runcing hak tadi seperti “senjata” yang sanggup mengintimidasi, termasuk intimidasi erotik.
Seorang ahli sejarah sepatu, Mary Trasko, mencoba menyimpulkan perbedaan pemuja sepatu (wanita) di Barat dan Timur. Di Barat, bentuknya katanya selalu “licin berkilap, bersisi tajam, seperti senjata”. Sedangkan di Timur (kelihatannya lebih menunjuk ke China), “selalu mengingatkan pada pakaian dalam, dengan satin di bagian atas dan adanya bordiran di sana-sini”. Adakah itu juga mencerminkan relasi perempuan-lelaki dalam domain yang amat pribadi? Barat lebih agresif, Timur lebih pasrah?
SEPATU adalah suatu produk dengan paduan teknis (sepatu yang baik dan sehat harus memenuhi tuntutan-tuntutan anatomis tubuh) dan fantasi.
Pada bagian anatomi ini, Clarks di Somerset membanggakan perhatian mereka pada kelompok umur yang disebut anak- anak (usia 0-11 tahun). Sepatu untuk anak-anak harus cocok dan memerhatikan pertumbuhan mereka.
Di luar aspek teknis yang menyangkut kesehatan kaki, kemudian dalam strategi konsumsi/perdagangan, harus digarap pula dunia pemikiran dan kecenderungan anak-anak. “Yang paling penting adalah mengetahui (kemauan) anak-anak,” kata John Parkinson dari divisi sepatu anak-anak perusahaan itu.
Lingkungan Somerset memang sudah seperti lingkungan Clarks. Di desa itu mereka bekerja sama dengan sekolah-sekolah setempat. Misalnya, sekelompok anak dijadikan bagian dari percobaan, dengan memakai sepatu bikinan Clarks selama sebulan sebagai tes. Sepatu tadi harus dipakai selama enam hari dalam seminggu, dengan seharinya sekitar enam jam. Dari percobaan itu akan diadakan evaluasi, sebelum produk mereka luncurkan ke pasar yang lebih luas.
Secara rinci mereka menerangkan berbagai bagian sepatu sampai ke konstruksi di dalamnya, dengan bagian-bagian yang namanya sole, velt, toe box, vamp, quarter, dan lain-lain. Dalam acara yang sehari-hari berlangsung seperti sebuah seminar ini, tak urung ada pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sederhana karena kami semua awam dalam sepatu. Bagaimana kulit yang bagus? “Kulit yang bagus adalah kulit sapi muda,” jawab Frederick Stanley Fearn, International Range Manager-Men’s, yang suka berseloroh. “Seperti manusia juga, kulit muda bagus, kulit tua jelek…” tambahnya. Ada wartawan yang nyeletuk, “Apalagi kalau sapinya suka pakai krem pelembab….”
Sebagai fantasi, untuk menentukan tren warna dan tema sepatu anak-anak, misalnya, mereka akan mempelajari apa yang sedang digandrungi anak- anak, misalnya dengan melihat lingkungan hiburan mereka, dari Tom & Jerry, Scooby-Doo, Harry Potter, sampai makanan yang mereka gemari, taruhlah McDonald’s. “Yang membuat saya senang di bisnis pembuatan sepatu, saya berangkat dari rancangan kertas kosong, tidak ada apa-apa, kemudian menciptakan sesuatu,” cerita Frederick serius ketika kami minum bir berdua. Dia sudah berkecimpung di industri sepatu selama 27 tahun.
Ketika Anda berada dalam suatu bidang yang Anda geluti dengan passion, cakrawala seolah bisa tanpa batas. Perancang Joseph Azagury di tahun 1990-an menciptakan sandal wanita dengan tali-tali karena terinspirasi dewi cinta Yunani, Aphrodite. “Aphrodite sering dilukiskan telanjang, kecuali sepasang sandal,” katanya. Oleh karena itu, rancangan sandalnya pun beraura seksi.
Pembikin sepatu lain-nama amat terkenal-Salvatore Ferragamo, pernah berujar, “Tak ada batas dalam kecantikan, tak ada titik jenuh dalam desain.”
Anda lihat sendiri, model demi model terus bermunculan. Itulah dunia sepatu: the shoe must go on….
Recent Comments